Selasa, 08 Juni 2010

kemampuan berbahasa anak

LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar
menguasai tingkat yang lebih tinggi dari berbagai aspek. Salah satu aspek
penting dalam perkembangan adalah aspek perkembangan bahasa. Bahasa
merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia
karena disamping berfungsi sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan
perasaan kepada orang lain juga sejaligus sebagai alat untuk memahami
perasaan dan pikiran orang lain.
Dimasa kanak-kanak adalah usia yang paling tepat untuk
mengembangkan bahasa. Karena pada masa ini sering disebut masa “golden
age” dimana anak sangat peka mendapatkan rangsangan-rangsangan baik yang
berkaitan dengan aspek fisik motorik, intelektual, sosial, emosi maupun
bahasa. Menurut Hurlock, (Musyafa, 2002) perkembangan awal lebih penting
dari pada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengeruhi
oleh belajar dan pengalaman.
Pada kenyataannya anak pra sekolah rata-rata belum banyak
menguasai kosa kata yang dijelaskan oleh para ahli. Hal ini terlihat dari
komunikasi yang mereka gunakan sehari-hari di sekolah, kadang juga ada anak
yang tidak mau berbicara jika ada pertanyaan dari guru atau dalam kegiatan
lain, hal ni tentunya akan menghambat perkembangan bahasanya. Disinilah
peran guru sangat dibutuhkan dalam mengembangkan bahasa anak terutama di
sekolah.
Mengingat hal tersebut penulis mencoba mengembangkan bahasa anak
melalui bercerita. diharapkan dengan bercerita akan menambah kosa kata anak
yang dapat digunakan dalam mengembangkan bahasa mereka untuk
berkomunikasi sehari-hari. Menurut Keraf (1989:4) bahwa mereka yang luas
kosa katanya akan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memilih kosa kata
yang tepat sebagai wakil untuk menyampaikan gagasan.
Mengingat kemampuan berbahasa, merupakan salah satu unsur yang
perlu dikembangkan di TK, penulis mencoba membahas tentang pentingnya
bercerita bagi perkembangan bahasa anak, apakah manfaat bercerita dan lain
sebagainya.
Dengan Ridho Allah SWT , mudah-mudahan Tugas Akhir ini dapat
membantu guru khususnya dan orang tua pada umumnya yang sedang
mengembangkan bahasa anak sesuai dengan perkembangannya.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas ada beberapa permasalahan yang
akan penulis ungkap:
1. Bagaimana cara mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui
bercerita,
2. Apakah pentingnya bercerita bagi perkembangan anak
3. Apakah manfaat bercerita bagi perkembangan anak
4. Bagaimana cara menyampaiakan bercerita di sekolah







C. TUJUAN
1. Mengetahui cara mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui
bercerita
2. Mengetahui pentingnya bercerita bagi perkembangan anak
3. Mengetahui manfaat bercerita bagi perkembangan anak
4. Mengatahui cara menyampaian kegiatan bercerita di sekolah
D. MANFAAT
1. Manfaat teoritis
a. Menambah pemahaman penulis tentang penyusunan Tugas Akhir
b. Menambah pemahaman guru tentang kegiatan bercerita di sekolah
c. Membantu guru dan orang tua dalam kegiatan bercerita di sekolah
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru semakin menarik dalam memberikan kegiatan bercerita di
sekolah
b. Bagi orang tua, meningkatkan wawasan dan ketrampilan dalam
memberikan kegiatan bercerita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP PERKEMBANGAN
1. Pengertian
Perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari
peubahan yang teratur dan koheren (Hurlock,1978:23). Sedangkan
menurut Monks dkk, (1991:1) perkembangan menunjukkan sebuah proses
tertentu, yaitu suatu proses yang menuju kedepan dan tidak begitu saja
dapat diulang kembali, Selanjutnya Werner (Monks dkk, 1991:1)
menegaskan bahwa “Perkembangan menunjukan pada perubahanperubahan
dalam suatu arah yang bersifat tetap”.
Perkembangan dapat dikatakan sebagai perubahan yang teratur dan
bersifat kuantitatif.
2. Tahap-tahap perkembangan
Menurut J. Piaget, ada 4 tahapan perkembangan kognitif:
a. Tahap Sensorimotor
Anak sejak lahir sampai usia sekitar 1 dan 2 tahun. Memahami obyek
di sekitarnya melalui sensori dan aktivitas motor dan gerakannya.
b. Tahap praoperasional
Proses berfikir anak berpusat pada penguasaan simbol-simbol
(misalnya kata-kata) yang mampu mengungkapkan pengalaman masa
lalu.
c. Tahap operasional kongkrit
Pada tahapan ini anak mulai mampu mengatasi masalah yang berkaitan
dengan konservasi dalam masalah yang bersifat konkrit.
d. Tahap formal operasional
Pada tahapan ini anak sudah mampu mengatasi masalah yang bersifat
abstrak.
B. KONSEP BAHASA
1. Pengertian
Bahasa adalah mencakup segala sarana komunikasi dengan
menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada
orang lain (E.B. Hurlock,1997:176). Sedangkan menurut Sumiati, (1987:1)
bahasa adalah ucapan pikiran, dan perasaan seseorang yang teratur dan
digunakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat.
Dengan kata lain bahasa adalah ucapan pikiran dan perasaan untuk
menyampaikan makna kepada orang lain yang digunakan sebagai sarana
komunikasi.
2. Manfaat bahasa
Bicara tentang bercerita tentunya tidak akan lepas dari bahasa. Karena
bahasa adalah sarana atau alat dalam bercerita. Perkembangan bahasa
tergantung pada kematangan sel, dukungan lingkungan dan keterdidikan
lingkungan. Berikut ini adalah manfaat bahasa:

a. Sebagai alat untuk berkomunikasi
b. Sebagai alat untuk mengembangkan intelektual anak
c. Sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang
lain
d. Melalui bahasa, pendengar/penerima akan mampu memahami apa yang
dimaksudkan oleh pengirim berita.
C. KONSEP BERCERITA
1. Pengertian
Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang
perbuatan atau sesuatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan
membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain (Bacrtiar S
Bachir:2005:10).
Sedangkan menurut M.Nur Mustakim (2005: 20), bercerita adalah
upaya untuk mengembangakan potensi kemampuan berbahasa anak melalui
pendengaran dan kemudian menuturkannya kembali dengan tujuan melatih
ketrampilan anak dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam
bentuk lisan.
Dengan kata lain bercerita adalah menuturkan sesuatu yang
mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian secara lisan dalam
upaya untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa.

2. Jenis cerita
Berdasarkan ciri-cirinya cerita dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Cerita lama
Ceria lama pada umumnya mengisahkan kehidupan klasik yang
mencerminkan srtruktur kehidupan manusia di zaman lama.
Jenis-jenis cerita lama menurut Desy, (1992:166-167) adalah sebagai
berikut:
1) Dongeng
Cerita tentang sesuatu yang tidak masuk akal, tidak benar terjadi dan
bersifat fantasis atau khayal. Dongeng macamnya sebagai berikut:
�� Mite
Adalah cerita atau dongeng yang berhubungan dengan
kepercayaan masyarakat setempat tentang adanya makhluk
halus
�� Legenda
Adalah dongeng tentang kejadian alam yang aneh dan ajaib
�� Fabel
Adalah dongeng tentang kehidupan binatang yang diceritakan
seperti kehidupan manusia
�� Saga
Adalah dongeng yang berisi kegagahberanian seorang pahlawan
yang terdapat dalam sejarah, tetapi cerita bersifat khayal.

2) Hikayat
Adalah cerita yang melukiskan raja atau dewa yang bersifat khayal
3) Cerita berbingkai
Adalah cerita yang didalamnya terdapat beberapa cerita sebagai
sisipan
4) Cerita panji
Adalah bentuk cerita seperti hikayat tapi berasal seperti kesusastraan
jawa.
5) Tambo
Adalah cerita mengenai asal-usul keturunan, terutama keturunan
raja-raja yang dicampur dengan unsur khayal.
Dengan kata lain jenis cerita yang tepat untuk anak TK adalah jenis
cerita fabel karena mereka sedang senang-senangnya dengan hewan
peliharaan. Jenis cerita tersebut, dalam penyampaiannya dikaitkan
dengan kehidupan sehari-hari.
b. Cerita baru
Cerita baru adalah bentuk karangan bebas yang tidak berkaitan dengan
sistem sosial dan struktur kehidupan lama.
Cerita baru dapat dikembangkan dengan menceritakan kehidupan saat
ini dengan keanekaragaman bentuk dan jenisnya.
c. Manfaat bercerita
Menurut Tadkiroatun Musfiroh, (2005:95) ditinjau dari beberapa aspek,
manfaat bercerita sebaga beripkut:

1. Membantu pembentukan pribadi dan moral anak
2. Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi
3. Memacu kemampuan verbal anak
4. Merangsang minat menulis anak
5. Merangsang minat baca anak
6. Membuka cakrawala pengetahuan anak
Sedangkan menurut Bachtiar S. Bachri (2005: 11), manfaat bercerita
adalah dapat memperluas wawasan dan cara berfikir anak, sebab dalam
bercerita anak mendapat tambahan pengalaman yang bisa jadi
merupakan hal baru baginya.
Manfaat bercerita dengan kata lain adalah menyalurkan kebutuhan
imajinasi dan fantasi sehingga dapat memperluas wawasan dan cara
berfikir anak.








BAB III
METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN
A. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini, yaitu:
1. Spesifikasi Penulisan
Penulisan ini termasuk penulisan dalam bentuk deskriptif yaitu
menggambarkan keadaan sesuatu. Data diperoleh berdasarkan kejadiankejadian
yang sering terjadi.
2. Metode Pengumpulan Data
Merupakan salah satu metode pengumpulan data yang bersumber dari
daftar pustaka, buku dan lain-lain. Buku pustaka berupa referensi yang
disalin diperpustakaan dan buku tentang bercerita
B. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Penulisan
B.Perumusan Masalah
C.Tujuan
D. Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.Konsep Perkembangan
B. Konsep Bahasa

C. Konsep Bercerita
D. Manfaat Bercerita
BAB III METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN
A. Metode Penulisan
B. Sistematika Penulisan
BAB IV PEMBAHASAN
A. Cara Guru Dalam Mengembangkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui
Bercerita
B.Pentingnya Bercerita Bagi Perkembangan Anak
C. Manfaat Bercerita Bagi Perkembangan Anak
D. Kegiatan Bercerita Disekolah
BAB V PENUTUP
A. Penutup
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA














BAB III
PEMBAHASAN
A. CARA GURU DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
ANAK MELALUI BERCERITA
Cerita memang menyenangkan anak sebagai penikmatnya, karena
bercerita memberikan bahan lain dari ssi kehidupan manusia, dan pengalaman
hidup. Pada saat menyimak cerita, sesunguhnya anak-anak memutuskan
hubungan dengan dunia nyata untuk sementara waktu, masuk kedalam dunia
imajinatif yang bersifat pribadi, cerita secara lisan yang disampaikan pencerita
memiliki karakteristik tertentu. Semakin pandai seseorang bercerita semakin
kuat pengaruh kata-katanya pada anak. Untuk dapat melakukan pengaruh pada
anak seorang pencerita harus memahami bagaimana cara anak berfikir menurut
pandangan psikologis dan bagaimana memandang diri dari dunianya secara
realita.
Petama kali anak memilki apa yang dimaksud dengan “dunianya” yaitu
segala sesuatu yang melatarbelakangi dan mampu difikirkannya tanpa
melakukan validasi (pengecekan) terhadap dunia yang sesunguhnya.Contohnya
seorang anak memiliki keyakinan bahwa dirinya bisa terbang, dirinya bisa
berenang bagai seekor ikan, dan lain-lain. Menurut meraka hal ini adalah
kenyataan, oleh karena itu guru dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran
dan dapat dijadikan bahan kegiatan bercerita.
Kedua, anak perlu memahami “kenyataan” yang seharusnya yaitu
bahwa disamping alam befikir yang bebas anak harus dihadapkan pada realita

yang sesungguhnya, contohnya: api itu panas dan dapat menyebabkan luka jika
mengenai badan/kulit.
Sedangkan seorang guru dalam menyampaikan agar menarik dan anak
dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan cerita yaitu dengan menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti dan suara yang keras, memberi penugasan
kepada anak setelah medengarkan cerita, menggunakan medoia dalam
bercerita, selingi dengan hiburan atau bernyanyi.
Cerita yang menarik adalah cerita mengenai diri dan imajinasi
pendengarnya, oleh karena itu penceritaan terhadap anak perlu
menggabungkan kemapuan melihat realita dan kemampuan berfikir yang
bebas,imajinasi yang ditambah dengan kelucuan dan hiburan dalam cerita yang
disampaikan sehingga anak tidak bosan mendengarnya dan dapat
membangkitkan imajinasi mereka. Disamping itu seorang guru sebelum
menyampaikan cerita terlebih dahulu menentukan kriteria-kriteria sebagai
berikut:
1. Tema
Tema adalah makna yang terkandung didalam sebuah cerita.Untuk
anak TK cerita yang diberikan sebaiknya memiliki tema tunggal, berupa
tema sosial maupun tema ke-Tuhanan. Tema yang lain misalnya tema
moral dan kemanusiaan. Disamping itu tema yang disampaikan hendaknya
bersifat tradisional misalnya cerita tentang pertentangan baik dan buruk.



2. Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh
pengarang dalam karyanya (Sudjiman,1992;57). Amanat untuk cerita anakanak
harus ada didalam cerita atau dongeng, baik ditampilkan secara
eksplisif maupu implisif, baik dinyatakan melalui para tokohnya, maupun
oleh penceritanya.
3. Plot atau alur cerita
Plot adalah peristiwa-peristiwa naratif yang disusun dalam
serangkaian waktu. Karena kemampuan logika anak TK belum berkembang
maksimal, maka plot yang disampaikan dalam cerita cenderung sederhana
tidak terlalu sulit.
4. Tokoh dan penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa
dalam cerita. Anak TK memerlukan tokoh cerita yang jelas dan sederhana.
Tokoh-tokoh sederhana membantu anak-anak dalam mengidentifikasi
tokoh jahat dan tokoh baik.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang merupakan salah satu sarana cerita (Stanton, 1973).
Dalam cerita lisan untuk anak TK menggunakan kata “dia” baru sebagai
pembawa cerita dituntut untuk dapat membawakan dialog dengan baik,
sehingga katakter tokoh dapat diidentifikasi anak.
6. Latar
Latar adalah unsur cerita yang menunjukkan kepada penikmatnya
dimana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung. Cerita anak
boleh terjadi dalam latar atau setting apapun asal sesuai dengan
perkembangan kognsi dan moral anak-anak. Adapun setting waktu yang
tepat adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak seperti
besok dan sekarang.
7. Sarana Kebahasaan
Agar apa yang disampaikan itu sampai kepada penikmatnya yang
dituju, bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat usia, sosial
dan pendidikan penikmatnya. Bahasa cerita untuk anak-anak ditandai
dengan ciri-ciri bentuk kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat dan
bentuk-bentuk bahasa tertentu. Pada dongeng, sebagai bagian dari cerita
rakyat, sarana kebahasaan cenderung tetap pada bagian awal dan akhir,
seperti “pada suatu hari… dan akhirnya mereka bahagia”.
B. PENTINGNYA BERCERITA BAGI PERKEMBANGAN ANAK
Banyak orang tidak menyadari betapa besar pengaruh cerita bagi
perkembangan bahasa anak, bahkan sampai membentuk budayanya.Pengaruh
cerita, membaca cerita dan bercerita yang demikian besar menjadi salah satu
alasan bagaimana cerita yang baik.
Cerita juga dapat digunakan oleh orang tua dan guru sebagai sarana
mendidik dan membentuk kepribadian anak melalui pendekatan transmisi

budaya (Suyanto & Abbas,2001). Melalui kegiatan ini, transmisi budaya terjadi
secara alamiah, bawah sadar dan akumulatif hingga jalin menjalin membentuk
kepribadian anak. Bercerita menjadi sesuatu yang penting bagi anak karena
beberapa alasan:
1. Bercerita merupakan alat pendidikan budi pkerti yang paling mudah di
cerna anak
2. Bercerita merupakan metode dan materi yang dapat di integrasikan dengan
dasar ketrampilan lain, yakni berbicara, membaca dan menulis.
3. Bercerita memberi ruang lingkup yang bebas pada anak untuk
mengembangan kemampuan bersimpati dan berempati
4. Bercerita memberikan “pelajaran” budaya dan budi pekerti yang memiliki
retensi lebih kuat dari pada “pelajaran” budi pekerti yang diberikan
melalui penuturan atau perintah langsung.
5. Bercerita memberi contoh pada anak bagaimana menyikapi suatu
permasalan dengan baik, sekaligu memberi “pelajaran” pada anak
bagaimana cara mengendalikan keinginan-keinginan yang dinilai negative
oleh masyarakat.
Arti pentingnya cerita bagi perkembangan anak tidak dapat dilepaskan
dari kemampuan guru dalam mentransmisikan nilai-nilai luhur kehidupan
dalam bentuk cerita atau dongeng.Kemampuan gurulah yang sebenarnya
menjadi tolak ukur kebermaknaan bercerita. Tanpa itu dongeng dan cerita tidak
akan memberikan makna apa-apa bagi anak.
C. MANFAAT BERCERITA BAGI PERKEMBANGAN ANAK
Cerita merupakan kebutuhan universal manusia, dari anak-anak hingga
orang dewasa. Bagi anak-anak, cerita tidak sekedar memberi manfaat emotif
tetapi juga membantu pertumbuhan mereka dalam berbagai aspek. Oleh karena
itu bercerita merupakan aktivitas penting dan tak terpisahkan dalam program
pendidikan untuk anak usia dini. Cerita bagi anak memiliki manfaat yang sama
pentingnya dengan aktivitas dan program pendidikan itu sendiri. Ditinjau dari
berbagai aspek, manfaat tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1. Membantu pembentukan pribadi dan moral anak
Cerita sangat efektif untuk mempengaruhi cara berfikir dan cara
berperilaku anak karena mereka senang mendengarkan cerita walaupun
dibacakan secara berulang-ulang. Pengulangan imajinasi anak, dan nilai
kedekatan guru dan orang tua membuat cerita menjadi efektif untuk
mempengaruhi cara berfikir mereka.
Cerita mendorong perkembangan moral anak karena beberapa sebab,
yaitu sebagai berikut:
a. Menghadapkan siswa kepada situasi yang mengandung “konsiderasi”
yang sedapat mungkin mirip dengan yang dihadapi siswa dalam
kehidupan.
b. Cerita dapat memancing siswa menganalisis situasi, dengan melihat
bukan hanya yang nampak tetapi juga sesuatu yang tersirat didalamnya,
untuk menemukan isyarat-isyarat halus yang tersembunyi tentang
perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
c. Cerita mendorong siswa untuk menelaah perasaan sendiri sebelum ia
mendengar respon orang lain untuk dibandingkan.
d. Cerita mengembangkan rasa konsiderasi yaitu pemahaman dan
penghayatan atas apa yang diucapkan/dirasakan tokoh hingga akhirnya
anak memiliki konsiderasi terhadap tokoh lain dalam alam nyata
(Nasution,1989:162-163).
2. Menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi
Anak-anak membutuhkan penyaluran imajinasi dan fantasi tentang
berbagai hal yang selalu muncul dalam pikiirannya. Masa usia pra sekolah
merupakan masa-masa aktif anak berimajinasi. Tak jarang anak
“mengarang” suatu cerita sehingga oleh sebagian orang tua dianggap
sebagai kebohongan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, imajinasi
anak-anak sedang membutuhkan penyaluran. Salah satu tempat yang tepat
adalah cerita.
Anak membutuhkan dongeng atau cerita karena beberapa hal:
a. Anak membangun gambaran-gambaran mental pada saat guru
memperdengarkan kata-kata yang melukiskan kejadian.
b. Anak memperoleh gambaran yang beragam sesuai dengan latar
belakang pengetahun dan pengalaman masing-masing.
c. Anak memperoleh kebebasan untuk melakukan pilihan secara mental.
d. Anak memperoleh kesempatan menangkap imajinasi dan citraan-citraan
cerita: citraan gerak, citraan visual, dan auditif.
3. Memacu kemampuan verbal anak
Cerita yang bagus tidak sekedar menghibur tetapi juga mendidik,
sekaligus merangsang perkembangan komponen kecerdasan linguistik yang
paling penting yakni kemampuan menggunakan bahasa untuk mencapai
sasaran praktis. Selama menyimak cerita, anak belajar bagaimana bunyibunyi
yang bermakna diajarkan dengan benar, bagaimana kata-kata disusun
secara logis dan mudah dipahami, bagaimana konteks dan konteks
berfungsi dalam makna.
Memacu kecerdasan linguistik merupakan kegiatan yang sangat
penting. Pernyataan ini didukung oleh pendapat sejumlah ahli, bahwa
diantara komponen kecerdasan yang lain, kecerdasan linguistiklah yang
mungkin merupakan kecerdasan yang paling universal.
Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita, tetapi
juga senang bercerita atau berbicara. Anak belajar tentang tata cara
berdialog dan bernarasi dan terangsang untuk menirukannya.Kemampuan
pragmatik terstimulasi karena dalam cerita ada negosiasi, pola tindak-tutur
yang baik seperti menyuruh, melarang, berjanji, mematuhi larangan dan
memuji.
Memacu kemampuan bercerita anak merupakan sesuatu yang penting,
karena beberapa alasan, yaitu pertama anak memiliki kosa kata cenderung
berhasil dalam meraih prestasi akademik. Kedua, anak yang pandai
berbicara memperoleh perhatian dari orang lain. Hal ini penting karena
pada hakikatnya anak senang menjadi pusat perhatian dari orang lain.
Ketiga, anak yang pandai berbicara mampu membina hubungan dengan
orang lain dan dapat memerankan kepemimpinannya dari pada anak yang
tidak dapat berbicara. Berbicara baik mengisyaratkan latar belakang yang
baik pula. Keempat, anak yang pandai berbicara akan memiliki
kepercayaan diri dan penilaian diri yang positif, terutama setelah
mendengar komentar orang tentang dirinya.
4. Merangsang Minat menulis
Pengaruh cerita terhadap kecerdasan bahasa anak diakui oleh
Leonhardt. Menurutnya cerita memancing rasa kebahasaan anak . anak
yang gemar mendengar dan membaca cerita akan memiliki kemampuan
berbicara, menulis dan memahami gagasan rumit secara lebih
baik(Leonhardt,1997:27). Ini berarti selain memacu kemampuan berbicara,
menyimak cerita juga merangsang minat menulis anak.
5. Merangsang minat baca anak
Bercerita dengan media buku, menjadi stimulasi yang efektif bagi
anak TK, karena pada waktu itu minat baca pada anak mulai tumbuh. Minat
itulah yang harus diberi lahan yang tepat, antara lain melalui kegiatan
bercerita.
Menstimulasi minat baca anak lebih penting dari pada mengajar
mereka membaca, menstimulasi memberi efek yang menyenangkan,
sedangkan mengajar seringkali justru membunuh minat baca anak, apalagi
bila hal tersebut dilakukan secara dipaksa.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memupuk minat baca
anak berkaitan dengan bercerita adalah sebagai berikut:
a. Biarkan anak memilih sendiri buku cerita yang dibacakan guru. Dalam
hal ini, guru mempersiapkan beberapa buku yang hendak dibacakan,
dan anak memilih buku cerita mana yang akan dibacakan guru.
b. Persiapkan buku-buku yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak,
baik tulisan, piliha kata, isi cerita, panjang cerita, maupun ilustrasinya.
c. Bawalah anak –anak ke perpustakaaan atau TK yang menyediakan
bahan bacaan.
d. Bacakanlah cerita dengan lafal yang baik dan menarik. Tunjukkan jari
kelambang tulis.
6. Membuka cakrawala pengetahuan anak
Setiap anak pada hakekatnya sangat tertarik untuk mengenal dunia,
dan karena dunia ini cenderung berkaitan dengan budaya dan identitas
banyak orang, maka anak juga tertarik untuk mengenal budaya dan ras lain.
Cerita kadang menyimpan daya rangsang tinggi untuk memicu daya
eksplorasi anak tentang lingkungan.
Kegiatan bercerita dapat memperluas wawasan dan cara berfikir anak,
sebab dalam kegiatan bercerita anak mendapat tambahan pengalaman yang
bisa jadi merupakan hal baru baginya, atau juga seandainya bukan
merupakan hal baru tentu akan mendapatkan kesempatan untuk mengulang
kembali ingatan akan hal yang pernah didapat atau dialaminya.
D. KEGIATAN BERCERITA DI SEKOLAH
Untuk menyajikan secara menarik, diperlukan beberapa persiapan,
mulai dari memilih jenis cerita, menyiapkan tempat, panyiapan alat peraga dan
sebagainya hingga penyajian cerita.
1. Memilah dan memilih materi cerita
Diantara berbagai jenis cerita, cerita tentang pengalaman seseorang
dan faktor tradisional merupakan sumber cerita terbaik bagi anak-anak.
a. Jenis cerita
Dalam program pembelajaran di TK, cerita dapat digolongkan
menjadi tiga, yakni cerita untuk program inti, cerita untuk program
pembuka, dan cerita untuk tujuan rekreasi pada akhir program. Cerita
untuk program inti, digunakan dalam kegiatan inti cerita ini
disampaikan oleh guru sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin
di capai. Misalnya cerita tentang Bebek si buruk rupa. Ceria ini
menggambarkan seekor bebek yang buruk rupanya, tetapi hatinya baik,
suka menolong dan sebagainya. Tujuan pembelajaran ini, guru ingin
menanamkan rasa saling tolong menolong, tidak membeda-bedakan
teman. Cerita untuk program pembuka dan penutup, disampaikan pada
kegiatan inti dan penutup yang menyampaikan adalah anak, seorang
guru hanya memberikan stimulasi, misalnya dalam kegiatan berbagi
cerita tentang pengalaman naik sepeda dan sebagainya. Sedangkan
cerita untuk tujuan rekreasi pada akhir program, cerita ini disampaikan
oleh anak setelah liburan sekolah.
Untuk jenis cerita anak yang banyak disukai adalah cerita fabel
karena anak sedang senang dengan binatang-binatang peliharaan.
2. Pengelolaan kelas untuk bercerita
Pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi
kelas (Sudirman,1987:310).pengelolaan kelas dengan baik seorang guru
perlu memperhatikan aspek-aspek pengelolaan kelas yang terdiri:
a. Pengorganisasian siswa
Bentuk pengelompokan anak-anak yang akan dilibatkan atau diajak
berinteraksi dalam penceritaan terlebih dahulu guna mengetahui
hubungan sosial antar anak dalam kelas.
b. Penugasan kelas
Dalam kegiatan bercerita, penugasan kelas dapat dilakukan dengan
meminta anak-anak untuk mencari tokoh utama dalam cerita
mengingatnya dan menyebutkan kembali sifat-sifatnya. Tentunya tugas
tersebut dikomunikasikan terlebih dahulu sebelum penceritaan
berlangsung.
c. Disiplin kelas
Dalam kegiatan bercerita di TK, bentuk-bentuk disiplin kelas tentu
harus disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini. Dalam
melakukan peceritaannya seorang guru tetap perlu menenangkan
muridnya untuk mendengarkan pesan melalui ceritanya. Proses
menenangkan murid perlu dilakukan dengan cara mendidik, tidak
disertai dengan ancaman dilakuan dengan mengikat perhatian mereka
melalui cerita yang disajikan dengan menarik sehingga tidak membuat
anak sibuk sendiri.
d. Pembimbingan siswa
Dalam kegiatan bercerita, bimbingan yang diperlukan dapat
berbentuk pemberian informasi sejelas-jelasnya tentang proses dan
tujuan cerita yang akan disampaikan serta kemungkinan permasalahan
yang muncul dalam memahami pembelajaran yang akan diikutinya.
3. Pengelolaan tempat untuk bercerita
a. Penataan tempat untuk bercerita
Tempat duduk sisa dalam kegiatan bercerita perlu mendapatkan
perhatian yang serius. Sebab tempat duduk berkaitan dengan banyak
hal. Keterkaitan itu adalah; interaksi guru dan siswa, karakteristik
materi penceritaan, media pembelajaran yang digunakan dalam
penceritaan.Oleh karena, itu tempat duduk siswa sangat berpengaruh
dalam keberhasilan kegiatan bercerita.
Aktifitas bercerita tidak harus dilakukan didalam kelas, kegiatan
bercerita dapat dilakukan dimanapun asal memenuhi kriteria
kebersihan, keamanan dan kenyamanan. Jika jumlah anak sedikit,
bercerita dapat dilakukan diberbagai tempat seperti di teras, di bawah
pohon, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya yang penting tempat
tersebut dapat menampung semua anak, teduh, bersih dan aman.
Apabila jumlah anak relatif banyak sebaiknya dipilih tempat yang
lebih luas. Ruang kelas merupakan tempat yang paling representatif
(memenuhi persyaratan) yang lebih baik lagi apabila cerita yang
disampaikan ditempat yang berkaitan. Misalnya: Monumen Yogya
kembali, disampaikan di Yogyakarta.
Berikut ini contoh penataan tempat duduk untuk kegiatan bercerita
diruang kelas
Posisi guru ditengah-tengah murid
Posisi murid
Model posisi ini dipilih jika seandainya penceritaan dilakukan
dengan monolog dan tanpa latar belakang. Penggunaan media cukup
dipegang dan berada di sekitar pencerita duduk dan berdiri.
b. Posisi media
Penempatan dalam ruangan perlu memperhatikan beberapa aspek.
Keterjangkauan menjadi prioritas bahwa semua media yang akan
dipakai mudah dijangkau oleh guru sehingga tidak mengganggu proses
penceritaan. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah keselamatan
media terhadap kemungkinan gangguan yang muncul berasal dari
murid-murid sendiri. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah peraturan
akan murid, guru dan media dengan baik.
*
Media yang biasa digunakan disekolah adalah buku cerita, gambar
dan boneka. Bercerita dengan media buku dipilih apabila guru memiliki
keterbatasan pengalaman. Disamping itu membiasakan cerita dalam
buku memiliki kelebihan dan kelemahan yang harus diatasi guru.
Beberapa keuntungan tersebut yaitu:
1) Mebacakan cerita dalam buku merupakan demonstrasi terbaik
bagaimana mencintai buku.
2) Buku merupakan sumber ide terbaik.
3) Ketika menyimak tulisan, anak memiliki kesempatan untuk
memprediksi kata dari kelanjutan cerita.
4) Keberadaan buku mendorong anak untuk belajar “membacanya”
sendiri begitu kegiatan bercerita selesai (Wright,1998:13).
5) Bercerita dengan alat peraga buku memilki pengaruh yang positif
dalam memunculkan kemampuan keberaksaraan dan mendorong
tumbuhnya kesiapan baca pada anak.
Bercerita dengan media gambar digunakan untuk menyampaikan
dongeng kepada anak meliputi gambar seri dalam bentuk kertas lepas
dan buku serta gambar didepan flannel. Sedangkan bercerita dengan
media boneka, membutuhkan persiapan yang lebih matang terutama
persiapan memainkan boneka. Beberapa jenis boneka yang dapat
digunakan sebagai alat peraga bercerita, yakni boneka gagang
(termasuk didalamnya wayang), boneka gantung, boneka tangan dan
boneka tempel.
c. Penataan Ruang Cerita
Kegiatan bercerita di TK dapat dilakukan dimana saja.
Pelaksanaanya dapat dilakukan didalma maupun diluar kelas. Jika
penceritaan dilakukan di dalam kelas, maka kelas perlu dtata untuk
memberikan dukungan penceritaan. Penataan tersebut meliputi
ventilasi, tata cahaya dan tata warna. Sedangkan penataan yang
dilakukan di luar kelas membutuhkan beberapa hal yang perlu
diperhatikan diantaranya:
1) Kesesuaian tuntutan cerita
2) Keamanan
3) Kenyamanan
4. Strategi Penyamain cerita untuk anak
Kegiatan bercerita di sekolah dapat dilakukan dengan baik, apabila
sebelumnya dipersiapkan terlebih dahulu, tidak hanya itu saja peran
seorang guru disini juga sangat berperan penting, untuk memberikan
suasana yang menyenangkan agar anak dalam mendengarkan cerita atau
bercerita dengan hati yang senang. Karena pada prinsipnya belajar di TK
itu belajar sambil bermain.Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai
metode yang tepat dalam menyampaikan kegiatan bercerita, strategi
tersebut yaitu:
a. Straregi Storytelling
Straregi Storytelling merupakan penceritaan cerita yang dilakukan
secara terencana dengan menggunakan boneka, atau benda-benda
visual, metode ini bertujuan untuk menghasilkan kemampuan berbahasa
anak. Penggunaan metide ini dibutuhkan untuk melatih dan membentuk
ketrampilan berbicara, pengembangkan daya nalar, dan
pengembanangkan imajinasi anak. Metode ini contohnya seperti metode
sandiwara boneka, metode bermain peran, metode bercakap-cakap dan
metode tanya jawab.
b. Strategi Reproduksi Cerita
Strategi reproduksi cerita adalah kegiatan belajar mengajar bercerita
kembali cerita yang didengar. Tujuan kegiatan ini sama dengan tujuan
straregi Storytelling. Strategi ini dimulai setelah guru
bercerita,kemudian anak diminta menceritakan cerita itu sesuai dengan
daya tangkap anak.
c. Strategi Simulasi Kreatif
Strategi simulasi kreatif dilaksanakan untuk memanipulasi kegiatan
belajar sambil bermain dari penggalan dialog cerita atau bermain peran
membawakan tokoh-tokoh dalam cerita.
























BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, maka penulis
menyampaikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan
manusia karena disamping berfungsi sebagai alat untuk menyatakan
pikiran dan perasaan kepada orang lain, juga sekaligus sebagai alat untuk
memahami perasaan dan pikiran orang lain.
2. Melalui bercerita, kosa kata anak akan bertambah, hal inilah yang dapat
membantu dalam mengembangkan bahasa mereka.
3. Bercerita membantu pembentukan pribadi dan moral anak, menyalurkan
kebutuhan imajinasi, memacu kemampuan verbal anak, merangsang minat
menulis anak, merangsang minat baca anak, membuka cakrawala
pengetahuan anak.
4. Cerita yang baik adalah cerita yang memenuhi kriteria seperti tema,
amanat, plot, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar dan sarana
kebahasaan.
5. Jenis cerita dibagi menjadi dua yang pertama cerita lama meliputi:
dongeng, hikayat, cerita berbingkai, cerita panji dan tambo. Yang kedua
cerita baru.
30
6. Kegiatan bercerita di sekolah, harus dipersiapkan terlebih dahulu yaitu
dengan memilah dan memilih materi cerita, pengelolaan kelas untuk
bercerita, pengelolaan tempat untuk bercerita.
7. Strategi penyampaian cerita untuk anak dilakuan dengan cara Story telling,
reroduksi cerita dan simulasi kratif.
B. SARAN
Salah satu Tugas Akhir ini adalah untuk memperkaya pengetahuan, di
bawah ini dikemukakan saran sebagai berikut:
1. Tugas Akhir untuk menambah wawasan pembaca tentang pengetahuan,
ketrampilan dan sikap tentang pembelajaran cerita anak. Oleh karena itu,
kehadiran Tugas Akhir ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk
kebutuhan pengembanagn ilmu.
2. Dalam penyajian cerita hendaknya diperhatikan langkah-langkah
penyusunan persiapan pelaksanaan cerita. Dengan upaya ini di harapkan
cerita dapat berfungsi secara maskimal dan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
3. Strategi penyampain cerita story telling, reproduksi cerita dan simulasi
kreatif dapat dimanfaatkan oleh orang tua, guru dan calon guru TK untuk
meningkatkan keptrampilan menyajikan cerita yang menyenangkan anak
yang kreatif dan efisien. Terutama untuk mengembangkan bahasa anak.
31





DAFTAR PUSTAKA
Bachri, S Bachtiar. 2005. Pengembangan Kegiatan Bercerita, Teknik dan
Prosedurnya. Jakarta: Depdikbud
Hurlock, B Elizabeth. 1997. Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Musfiroh, Tadkiroatun. 2005. Bercerita Untuk Anak Usia Dini. Jakarta:
Depdiknas.
Nur Aeni E. 2000. Metode Pengembangan Kemampuan Berbahasa. Jakarta:
Depdiknas.
Saleh, Chasimar, dkk. 1991. Pedoman guru Bidang Pengembangan
Kemampuan Berbahasa di TK. Jakarta: Depdikbud.
Soeparmoto, dkk. 2004. Psikologi Perkembangan. Semarang: UNNES Press.
Widodo, Isye. 2002. Sampai Dimana Kemampuan Anak Prasekolah. Jakarta:
Klinik Peka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar